
Banjir
Sumenep
AIRA, Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis AI dan IoT untuk Sumenep
Melengkapi SEP, BBM, dan JOS, SYNVORA menghadirkan AIRA (Artificial Intelligence Response Banjir): platform pemantauan, analisis risiko, dan peringatan dini banjir untuk Kabupaten Sumenep yang memadukan Computer Vision, sensor IoT, data cuaca, dan GIS dalam satu dashboard terintegrasi.
Banjir tidak selalu bisa dicegah, tapi keterlambatan informasi bisa. AIRA kami bangun supaya pemerintah, petugas lapangan, dan warga punya waktu lebih untuk bersiap, bukan sekadar bereaksi setelah air naik.
Kenalkan AIRA: Artificial Intelligence Response Banjir
SUMENEP, 25/09/2026 - Setelah SEP (Smart Event Sumenep), BBM (Belajar Bahasa Madura), dan JOS (Job Opportunity Sumenep), tim SYNVORA menghadirkan inovasi keempat sekaligus yang paling ambisius: AIRA, Artificial Intelligence Response Banjir. Kalau tiga inovasi sebelumnya menjawab kebutuhan event, bahasa, dan pekerjaan, AIRA hadir untuk urusan yang menyangkut keselamatan warga secara langsung: banjir.
AIRA adalah platform pemantauan, analisis risiko, dan peringatan dini banjir untuk Kabupaten Sumenep. Sistem ini memadukan Computer Vision pada CCTV, sensor IoT tinggi muka air dan curah hujan, data cuaca, serta sistem informasi geografis (GIS) ke dalam satu dashboard terintegrasi, sehingga pemerintah daerah, petugas lapangan, dan masyarakat bisa bergerak lebih cepat dan tepat, sebelum, saat, maupun setelah banjir terjadi.
Kunjungi AIRA Sekarang
Kali Marengan meluap, salah satu titik pantau prioritas yang jadi fondasi data spasial AIRA.
Kenapa Sumenep Butuh Sistem Peringatan Dini Banjir?
Selama ini, informasi kondisi banjir di lapangan sering terlambat sampai ke pihak yang butuh mengambil keputusan. Titik rawan tidak bisa dipantau terus-menerus, kondisi air bisa berubah sangat cepat, dan data dari berbagai sumber (CCTV, laporan warga, kondisi cuaca) belum terintegrasi dalam satu tempat. Akibatnya, respons sering kali baru bergerak setelah genangan sudah meluas.
Empat tantangan utama yang mendasari AIRA:
- Informasi dari lapangan yang terbatas dan sering terlambat sampai ke pengambil keputusan.
- Tidak semua titik rawan banjir bisa diawasi manusia secara terus-menerus.
- Kondisi banjir bisa berubah sangat cepat dalam hitungan menit.
- Data dari berbagai sumber (CCTV, sensor, cuaca, laporan petugas) belum terintegrasi.
Arsitektur 5 Lapisan: Dari Sensor hingga Aksi
AIRA dibangun di atas lima lapisan yang saling terhubung, mulai dari sumber data di lapangan sampai tindakan nyata di lokasi kejadian:
- 1
Sumber Data
CCTV, sensor tinggi muka air, sensor curah hujan, data cuaca (API), data geospasial (GIS), dan laporan petugas lapangan.
- 2
Edge / IoT
Akuisisi data real-time, pra-pemrosesan di lokasi, dan pengiriman ke cloud lewat koneksi 4G/LTE atau LoRa.
- 3
AI Processing
Computer Vision untuk deteksi genangan, Time-Series AI untuk tren tinggi air, Risk Analysis Engine untuk fusi multi-sumber data, dan Rule & Decision Engine untuk menentukan status peringatan.
- 4
Cloud / Application
Database terpusat, GIS dan peta interaktif, manajemen perangkat, analitik dan visualisasi, API integrasi, hingga sistem notifikasi.
Output & Aksi
Peringatan dini real-time, verifikasi petugas di lapangan, respons dan penanganan, dokumentasi kejadian, hingga pembelajaran sistem untuk meningkatkan akurasi ke depan.

Foto udara kondisi banjir di permukiman, skenario yang jadi acuan simulasi AIRA.
Fitur-Fitur Utama AIRA
Pemantauan CCTV Berbasis AI
Analisis visual real-time dengan Computer Vision untuk mendeteksi genangan, kenaikan muka air, dan perubahan kondisi lingkungan.
Integrasi Sensor IoT
Terhubung dengan sensor tinggi muka air dan curah hujan, lengkap peringatan otomatis saat data perangkat tidak wajar.
Data Cuaca dan Analisis Prediksi
Integrasi data cuaca dari sumber terpercaya dan model AI untuk memprediksi potensi risiko banjir beberapa jam ke depan.
Peta Interaktif dan Analisis Risiko
Visualisasi wilayah, titik pemantauan, dan tingkat risiko banjir dalam peta interaktif berbasis GIS.
Peringatan Dini dan Notifikasi
Notifikasi otomatis lewat dashboard, WhatsApp Gateway, email, hingga integrasi sirene publik.
Manajemen Kejadian dan Laporan
Pencatatan kejadian otomatis, verifikasi dan catatan respons petugas, hingga laporan statistik dan ekspor data.
Teknologi di Balik AIRA
AIRA menggabungkan beberapa disiplin teknologi sekaligus, bukan cuma satu sistem sensor sederhana:
| Komponen | Teknologi |
|---|---|
| Computer Vision | YOLOv10, OpenCV, Python |
| Time-Series AI | LSTM, PyTorch, Scikit-learn |
| Geospasial (GIS) | Leaflet, PostGIS, QGIS |
| IoT & Edge Computing | ESP32, LoRa/4G, MQTT |
| Data Cuaca | OpenWeather, BMKG API |
| Frontend Dashboard | Vue.js, TailwindCSS, Chart.js |
| Notifikasi & Integrasi | WhatsApp API, Email, Webhook |
Matriks Strategi 3x3: Manfaat di Setiap Fase
Manfaat AIRA dipetakan untuk tiga aktor utama, pemerintah daerah, petugas lapangan, dan masyarakat, pada tiga fase penanganan banjir: sebelum, saat, dan setelah banjir terjadi.
| Aktor | Sebelum Banjir | Saat Banjir | Setelah Banjir |
|---|---|---|---|
| Pemerintah Daerah | Pemetaan Risiko: prioritas anggaran & infrastruktur berbasis peta risiko per kecamatan. | Komando Terpadu: satu dashboard untuk koordinasi BPBD, dinas, dan kecamatan. | Kebijakan Berbasis Data: evaluasi dampak & perencanaan tata ruang dari histori kejadian. |
| Petugas Lapangan | Pemeliharaan Terjadwal: notifikasi perangkat offline & titik sumbatan saluran. | Verifikasi Cepat: lokasi prioritas & rute menuju titik kritis secara real-time. | Laporan Digital: pencatatan tindakan dan dokumentasi lapangan terstruktur. |
| Masyarakat | Edukasi & Kesiapan: informasi status wilayah dan jalur evakuasi terdekat. | Peringatan Dini: notifikasi WhatsApp, sirene, dan dashboard publik. | Pemulihan Terarah: informasi bantuan & status normalisasi wilayah. |
Data yang Bisa Dipertanggungjawabkan
Yang membedakan AIRA dari sekadar prototipe IoT, fondasi spasialnya bukan titik-titik yang digambar sembarangan di peta, melainkan berasal dari penelitian yang bisa ditelusuri sumbernya:
- BRIDA Sumenep bersama ITS (2026): survei lapangan yang memetakan 6 titik kritis dan 15 titik genangan setinggi 30-45 cm.
- Resmani, Andawayanti & Cahya (2017): kajian 8 outlet drainase, kapasitas saluran, dan status backwater yang jadi dasar model tinggi muka air AIRA.
- Prosiding PSPK 3 UKWMS (2024): koordinat hulu dan hilir Sungai Marengan.
Setiap titik pantau dalam AIRA punya label akurasi koordinat, apakah berasal dari data resmi instansi, publikasi penelitian, OpenStreetMap, atau geocode direktori, sehingga siapa pun bisa menelusuri dari mana data itu berasal. Nilai sensor, status, dan notifikasi yang tampil di dashboard saat ini adalah skenario simulasi hujan sangat lebat, sementara titik CCTV dan sensornya sendiri adalah titik pantau usulan AIRA pada lokasi yang sudah bersumber jelas.
Tim di Balik AIRA
Sebagai inovasi keempat dan proyek besar SYNVORA, AIRA dikembangkan oleh tim lengkap: Ahda Firly Barori, Danur Wenda, Ahmad Muqtafi, Ilham Maulana, dan Abd. Rahman Siddik.





Langkah Selanjutnya
AIRA akan terus dikembangkan secara bertahap, mulai dari menambah titik pantau CCTV dan sensor, menyempurnakan model prediksi risiko, hingga memperluas cakupan wilayah dari titik-titik prioritas menuju seluruh kecamatan rawan banjir di Kabupaten Sumenep. Setelah SEP, BBM, dan JOS, AIRA membuktikan bahwa teknologi SYNVORA bisa hadir untuk urusan yang menyangkut keselamatan warga secara langsung. Ikuti terus perjalanan SYNVORA membangun inovasi-inovasi berikutnya!
Akses Dashboard AIRADiskusikan Kebutuhan Teknologi Anda
Temukan solusi terbaik bersama tim ahli SYNVORA.
Konsultasi Sekarang"Teknologi yang tepat bukan hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga membuka peluang untuk masa depan yang lebih baik."



Memuat komentar...